Selasa, 22 Maret 2011

Dari Bojonegoro untuk Indonesia

35 orang hadir di acara gathering Blogger bojonegoro yang diselenggarakan di Perpustakaan Umum bojonegoro. Dengan visi dari Bojonegoro untuk indonesia, Blogger Bojonegoro ingin mencitrakan Bojonegoro melalui kegiatan nge-blog menggunakan cara mereka, dengan memposting tulisan tentang bojonegoro mulai dari olahraga, potensi budaya, sosial, budaya, kuliner dan semua konten lokal yang menunjuang peradaban dan laju kehidupan di bojoengoro.

Mengekor dari kota-kota besar, blogger Bojonegor ingin ikut ambil bagian dalam pengembangan dan pencerdasan masyarakat melalui dunia maya. Ajang silahturahmi, penyaluran dan pengembangan bakat, menuliskan ide, opini, kegelisahan dan kegembiraan. Itulah kyang akan blogger lakukan, ungkap prawoto selaku dewan penasehat blogger bojonegoro

Sementara itu, M. Rifai ketua blogger bojonegoro ketika di konfirmasi mengatakan bahwa, Blog, adalah media untuk menuangkan inspirasi dan inovasi, expresi dan expose diri yang merupakan ciri khas tersendiri oleh pemilik blog. “Jadi kami akan posting tulisan ya sesuai dengan selera kami, tentu tulisan yang baik, yang inpiratif tentang apa saja”, lanjut ia disela-sela gethering hari ini.

Komunitas ini terbetu sejak 7 maret tahun 2010, berawal dari adanya pertanyaan-pertanyaaan dari siswa-siswi yang masih sekolah SMP ataupun SMA, mereka banyak bertanya soal pelajaran T.I.K baik itu ngeblog maupun yang lainnya. Dari pada pusing jawab satu persatu dan kalau ketemu orang yang berbeda juga di tanya pertannyaaan yang sama maka dari itu kami posting artikel semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan.

Nge-blog merupakan cara kami untuk membangun pencitraan tentang Bojonegoro di mata Indonesia. Sebab kami cinta Bojonegoro, tak ingin kota kami tenggalam dalam kedahsyatan perkembangan arus teknologi infomasi dan komunikasi. Selain itu komunitas ini menjadi cara tersendiri untuk mempererat tali persaudaraan antar blogger di bojonegoro atau dengan blogger luar yang pernah tinggal di bojonegoro yang saat ini berdomisili tempat lain.

Itulah usaha yang sudah dimuai anak-anak muda bojonegoro, membangun sebuah komunitas blogger di Bumi Angkling Dharmo sebuah kota kecil yang mulai santer dengan isu Blok cepu sejak 2001, kota yang mulai dikenal dengan jajan Ledre. Mereka berharap komunitas ini mendapatkan respon positif dan diterima di masyarkat mulai dari akar rumput sampai kelas atas, baik swasta maupun kalangan pemerintah dan komunitas-kumnitas yang sudah hidup di Bojonegoro sebelumnya.

Komunitas blogger bojonegoro, memiliki agend membuat warga bojonegoro melek teknologi dengan mengadakan workshop IT, Road show kampus dan sekolah, touring ke tempat-tempat yang puya potensi di bojojonegoro, menerbitkan buku, bedah buku, kelas menulis, kopidarat dengan anggota.

Acara gethering diramikan dengan seminar dengan tema bagaimana meningkatkan produktivitas posting dalam blog. Sebagai pembiacara Prawoto, mengajak seluruh yang hadir untuk selalu memposting semua kegundahan dalam hati melalu blog masing-masing. Acara yang juga diramaikan dengan game dan dorprize ditutup dengan penanda tangan prasasti Blogger Bojonegoro yang berbunyi, Dari Bojonegoro untuk Indonesia.

Selasa, 15 Maret 2011

Semua Berawal dari Sini

Segmen 1
Dalam rutininatas manusia disubukkan dengan berbagai aktivitas. Bekerja, belajar, berdagang, dan berbagai aktivitas kehidupan lain melekat dalam setiap jejak langkah manusia. Tapi, tak selamnya manusia sibuk, pasti ada waktu jeda, waktu luang diantara rutinitas tersebut.

Bahkan, diantara kesibukan saat kerja atau rutinitas harian itu pun, sebenarnya ada banyak waktu luang. Salah satu diantaranya adalah ketika menunggu kendaraan umum harus, menabung di Bank, antri di kaser, menunggu jemputan, dikendaraan umum, naik kereta api.

Banyak cara untuk mengisi waktu luang. Sekedar duduk, bengong, SMS-san, main game, main HP, FB-an, ngemil, mendengarkan musik MP3, membaca.

Segmen 2
Mengisi waktu luang dengan membaca adalah salah satu kegiatan alternatif yang sangat positif. Membaca setiap ada kesempatan menunjukkan citra orang positif. Selain mengurangi kegiatan yang tak berguna, membaca bisa menjadikan sesorang bisa menambah wawasan, pengetahuan. Pembaca bisa menikmati berbagai kehidupan sesuai dengan apa yang dibaca. Lewat novel manuai bisa belajar tentang rasa dan perasaan. Belahan otak kira dan kanan bisa bekerja menstimulan logika dan rasa untuk dipakai sebagai prinsip dalam menjalani hidup.

Kebiasaan membaca akan selalu menjadi teman dimanapun dan kapanpun. Teman yang menceriakan dan menyenangkan disaat sepi, gelisah gundah. Membaca bisa menjadi teman yang paling berpengalaman menunjukkan hal-hal yang belum pernah kita tau.

Semua orang memiliki alasan, mengapa mereka mau membaca.

Segmen 3
Komunitas “Sindikat Baca” hadir di bojonegoro, tuban lamongan dan blora adalah wujud kuntribusI kami untuk membangun bangsa dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa dengan cara menularkan virus membaca. Kenginan kami tak muluk-muluk, “Kami ingin kampanye membaca. Titik”. Mimpi kami adalah membaca harus menjadi kebutuhan di Bojonegoro, khususnya. Bagi sindikat baca, membaca adalah gizi agar otak kita sehat. Jika otak sehat, maka otak akan jernih dalam menilai sebuah kejadian atau masalah.

Semua berwal dari sini, di rmuah ini, Rumah Baca yang terletak di Jl. Monginsidi, Kampung Baru gg. 1. Bojonegoro. Dari tempat inilah sindikat baca menularkan virus membaca bagi masyarakat, pelajar mahasiswa dan orang-orang yang kami kenal.

Sinidikat baca adalah komunitas pertama di bojonegoro yang bergerak dalam rangka peningkatan minat baca. Komunitas ini memulai aktivitasnya sejak setahun silam dengan menerbitkan majalah “baca” yang dibagikan secara gratsi di empat kabupaten. Saat ini ada beberpa komunitas lain yang mengekor seperti yang sindikat baca. “Kami bangga sebab keberadaan kami bisa menginspirasi komunitas-komunitas lain untuk turut serta membuat kegiatan dalam rangka peningkatan minat baca

Segmen 4
Tentu hobi membaca tidak berhenti hanya sekedar membaca saja. Perlu ada kegiatan-kegiatan lain untuk menunjang hobi membaca. Bergabung dengan pecinta buku salah satu cara agar minat baca terus terpelihara. Bertemu, berbincang-bincang dengan teman sesama pecinta buku tentang buku kesukaan dan bergai topik yang ada hubungan dengan dunia literasi.

Untuk itu, Sindikat Baca, memiliki berbgai agenda kegiatan diantaranya adalah menerbitkan Majalah Baca yang dibagikan secara gratis, Arisan buku untuk sindikat baca, obrolan buku di Radio Lintas FM, ara ini ditujukan untuk semua masyarakat yang tak sempat datang di acara arisan buku, membuka kelas menulis di 3 sekolah SMA di bojonegoro, kegiatan ini ditujukan untuk para siswa yang ingin meningkatkan minat baca dan belajar menulis, Membuka rumah baca untuk masyarakat yang ingin berkunjung dan membaca koleksi buku yang dimiliki oleh sindikat baca.

Sindikat Baca: Boleh gaya Asal Suka Baca.

Sabtu, 12 Maret 2011

Mencari Sebuah Nama

Sore rimis kali ini aku habiskan dengan sahabat akrab yang baru saja pulang dari ibu kota. Namanya Nanang, di sebuah supermarket yang cukup terkenal di Bojonegoro. Minum jus jambu merah menjadi minuman pilihan kami.

Awalnya Mas Nanang -begitulah bisanya aku memanggil- dipesani istrinya untuk membeli Pokis. Celakanya jajan tersebut sudah raib tanpa sisa, entah siapa yang memborongnya. Aku lihat raut muka Nanang kecewa, tak percaya jikalau jajan itu sudah habis. Pasti ia menyesal, memgapa tidak dari tadi pergi ketempat yang menjual pokis. "Ah...sudah habis, padahal Pokis itu kesukan istriku, dan tidak ada kalo disini". Begitu kurang loebih ia mengungkapkan padaku.

Pokis habis, tapi aku tetap saja ngajak Nanang mendekat, kali saja jajan tersebut masih tersisa. benar-benar habis, aku melihat dengan mata kepalku sendiri. Baru aku percaya. Kemudian aku menaiki sebuah tangga kecil untuk masuk ke Foodcourt, masih banyak kursi yang kosong. "Mas duduk dulu saja, masih hujan, masak mau pulang. Kita ngobrol dulu, seperti permintaanku tadi ada yang harus aku sampaikan". Begitulah aku mengajknya sambil sedikit melupakan kekecewaannya karena Pokis, jajan kesukaan Istrnya sudah laris manis tanpa tersisa.

Obrolan kami melebar, cair dan semangat. Mulai dari hobi membaca yang sama-sama kami miliki. Pengalaman menarik selama di ibu kota. Tak kalah antusiasnya aku juga bercerita tentang pendidikan sekolah dan rutinitasku dalam dunia pendidikan. Obrolan tentang Sindikat Baca dan rumah baca menjadi obrolan yang sangat inspiratif dan menyemangati kami untuk terus mengkampanyekan cina membaca.

Pada sebuah kesimpulan bahwa kita, saya dan Nanang haru sedikit narsis, membuat acara-acara yang kita asuh dengan ide dan komunita yang kita miliki. Tidak tergantung dengan yang lain. Setiap orang, sebaiknya memiliki gerbong-gerbong sendiri untuk meramaikan rumah baca dengan agenda dan kegitan yang kita ciptakan sendiri. Sekretif dan semenarik mungkin. Sebab setiap individu sellau memiliki masa senidiri sendiri. Kenapa narsis sebab kita menjual nama, dan hal ini akan meningktkan pengakuan orang terhadap individu itu, selain itu juga akan meningktkan citra Sindikat baca di mata masyarakat dengan adanya berbagai kegiatan positif.

Itu artinya aku dengan lingkungan pendidikan yang aku milili harus semakin bermanfaat dan memberi dengan cara membuat sebuah acara rutin yang aku asuh dan aku kemas sendiri dengan gaya dan karakterku, kegiatan yang tidak menggurui, menyenangkan, santai dan setiap yang datang bisa mendapat sesuatu dari pertemuan tersebut. Acara apa itu, yang jelas tidak jauh dari membaca menulis dan IT. Sebab itulah dunikku.

Sekrang aku sedang berfikir, apa nama acaranya, apa taqline-nya. Yaa... dengan menulisnya ini, aku sudah mulai jelas dan mendapatkan ide tinggal mengekamas dan mengembangkan.

Rumah Baca akan mejadi semacam stasiun TV, yang pemirsa datang lngsung, dengan berbagai acara khas, dikemas berbeda oleh penghuninya, baik aku, Nanang, Anas, Nitis, dita ataupun yang lainnya.

Pembicaraan kami semakin asik. Ada energi-energi baru yang meletup di ubun-ubunku. Obrolan kami menjadi sangat panjang. Sampai-sampai jus di gelasku tinggal tegukkan terakhir. Hujan masih turun, jam 16 sudah lewat separuh. Kami beranjak menuju tanggal yang mengghubungkan dengan bangunan lainnya. Disan aada beberpa buku yang ditata rapi terjual. tapi tidak menarik, bising sebab dekat dengan are game. Aku dan nanang hany aberjalan sekanany di balik rak-rak buku. Nanang gelisah sebab HP-nya low bad. ia tak bisa kirim SMS ke istri dan teman yang sudah menunggu di Balen. "Pak Guru, wis ayo kita turu, wlaupun hujan, aku harus pulang sudah sore, tak enak aku dengan orang rumah." Segara kami beranjak menuruni tangga, menuju ketepat parkir.

"Yang jelas kita harus berkarya Pak Guru. Menulis dan menerbitkan buku, memiliki sebuah karya, tentang apa saja yang dekat dengan dunia kita." Kalimat itulah yang di lontarkan Nanang padaku. "Dan sebanrnya sampean, aku, memiliki banyak hal yang bisa ditulis," lanjut Nanang kepadaku sambil menstarter sepda motornya.

Kaliamat hebat dari seorang sahabat. Itu akan menjadi mimpiku kedepan.